Friday, December 19, 2008

About Email, Confidence and Love

Dari kemarin sebenernya aku ingin post di blog ini, tapi yah, karena males, akhirnya ga jadi juga deh. Mungkin juga karena aku bingung mo nulis apa. Pada dasarnya aku bukan penulis yang baik sih. Pernah aku beberapa kali mencoba untuk menulis cerpen. Tapi bukannya jadi cerpen, malah jadi novel yang ga ada endingya. Dulu pas aku masih duduk di kelas 2 SMA, guru bahasa Indonesiaku kasih tugas untuk membuat cerpen. Awalnya aku senang. "Whaat... Piece of cake ini mah!" Pikirku. Waktu itu kami diberikan waktu selama seminggu. Hari pertama, aku masih anget-anget tahi ayam, semangat banget. Tapi lama-lama kok aku kehabisan ide ya? Memang aku suka bikin cerita, ideku segudang, tapi aku ga pernah bisa membuat ending yang bagus. Sampai malam terakhir sebelum deadline, akhirnya aku memutuskan untuk memakai sebuah cerpen di tabloid Hoplaa. Huhuhu... menyedihkan sekali ya? Aku pikir guruku ga akan tau ini, dan sampai akhirpun (mungkin) dia ga tau. In the end, meskipun aku udah nyontek dari bahan lain, aku cuma dapet nilai 70. Average banget.

Aku jadi ingat, saat kelas satu SMP, guru bahasa Indonesiaku juga pernah kasih kita tugas bikin cerita lucu. Pokoknya apa saja yang lucu, trus dibikin jadi kaya cerpen. Samar-samar sih, tapi aku ingat dulu aku buat cerita tentang si buaya dan bebek. Ceritanya sendiri aku terinspirasi dari komik Donal Bebek. Kalo ga salah, saat itu aku yakin ceritaku bakal dapet nilai bagus. Well, I did. Aku dapet nilai 80, itu termasuk dari cara aku bercerita, karena memang bukannya ceritanya yang mesti dikumpulkan, tapi kitanya sendiri yang harus menceritakannya di depan sang guru. Ga banyak yang dapet nilai segitu, makanya dulu aku bangga sekali. Hm, aku jadi kangen masa-masa tersebut, di mana aku bisa sangat semangat dan senang belajar. It was only during my school time. Memang banyak yang buruk juga, tapi bukan berarti ga ada yang baik. Aku suka sekali dengan masa-masa sekolahku. Kalo dikenang-kenang lagi sekarang, rasanya seperti baru kemarin.

Sampai hari ini, aku masih di dalam kamar, mengurung diri. Heheheh, sebenarnya ga ada alasan khusus. Aku cuma punya kebiasaan tidur pagi bangun siang (jam 7 pagi, bangun jam 2 siang) makanya untuk keluarpun rasanya males. Mana di sini dingin, pula. Sampai ada rumor macem-macem bahwa aku pergi entah ke mana. Bahkan ada yang bilang aku pulang ke Indonesia tanpa pamit pada siapa-siapa. Ternyata banyak yang memperhatikanku yah :P? Tapi ada-ada aja. Jadi keseharianku cuma seperti ini, duduk di depan komputer, browsing internet dan baca ebook. Ngomong-ngomong tentang internet, aku dapet email dari seorang teman. Isinya sih normal, tentang love. Intinya, "Setidaknya ada satu orang yang memikirkanmu sebelum tidur", "Setidaknya 15 orang di dunia ini mencintaimu" dsb. Yang bikin aku geli adalah, meskipun email ini sangatlah biasa (aku udah pernah dapet yang sama dari temanku yang lain), nevertheless it gives you warmth and cosy feelings. It might be true, it might not. Karena aku ga pernah menemui seorangpun yang ga pernah dicintai oleh orang lain. Dari sekian ratusan milyar penduduk dunia, setidaknya pasti ada satu yang menyayangi kita. Ga ada satupun yang benar-benar sendiri di dunia ini.

Sampai kemudian, aku baca yang bagian, "Seseorang yang bahkan keberadaannya tidak kamu ketahui mencintaimu". Aku terdiam. Apa memang ada orang yang seperti ini dalam hidupku? Kalo memang ada, rasanya ajaib aja. I actually like those things, kaya destiny dan hidden love. I used to believe that. Tapi aku mikir, well, apa emang ada orang yang bisa menyukai orang seperti aku ya? Aku yang seperti ini, seorang introvert yang ga menonjol. Jadi inget ucapan Galih, teman SMAku. "Lo waktu SMA tuh lucu, independent, tapi di satu sisi lo itu introvert. Selalu ngerasa beda, dan sering memisahkan diri dari yang lain."
"Iya ya?" tanyaku.
"iya, istilahnya, lo tuh selalu merasa rendah diri."
Aku tertegun. Apa iya aku rendah diri? Dari dulu aku sadar kalo aku itu sering merasa beda. Tapi aku ga pernah berpikir kalo aku itu rendah diri. Aku malah merasa bahwa diriku malah terkadang sombong. Guru bahasa Indonesiaku saat SMA, sering menggunakan istilah "Jangan suka lupa daratan" terhadapku. Setiap kali aku dapet nilai bagus, dia selalu menggunakan istilah tersebut. Dulu reaksiku cuma, "Ha?", lalu akhirnya aku berkesimpulan bahwa mungkin aku itu sombong. Meskipun sebenarnya aku ga ngerti alasan beliau memanggilku begitu. Back to the topic, aku kemudian berpikir lagi. Mungkin aku memang rendah diri. Dulu saat SMA, aku sering merasakan rendah diri di hadapan teman-temanku yang lain. Aku selalu merasa tidak cantik, juga tidak populer. Sering kali aku merasakan inferior terhadap anak-anak populer di sekolah, dan terkadang aku sampe kepikiran juga. Apa mungkin itu penyebab aku susah berinteraksi dengan yang lain?

Tapi tidak juga, aku juga punya kualitas-kualitas yang lain. Mungkin sampai saat ini pun aku masih merasa inferior terhadap teman-teman almamaterku, but why bother? Dulu aku mempermasalahkan bahwa aku sama sekali tidak populer di kalangan cowok. Bahkan aku ditolak oleh orang yang dulu pernah aku sukai. Apa yang membuat dia tidak bisa menyukaiku?? Begitu aku pikir. Aku sempat merasa jadi orang yang paling jelek di dunia. Tapi... Once again, why so serious? Aku mungkin ga sepopuler mereka, aku mungkin ga secantik mereka, tapi aku rasa aku pun ga jelek-jelek amat. Setidaknya, orangtuaku selalu berpikir anak-anaknya cantik semua. At least, I got a boyfriend who says I am cute every so often. It helps me a lot more than he ever knew. It boosts my confidences up, and it assures me I am beautiful the way I am now.

Semalam, aku chatting dengan salah satu seniorku di kampus. Setahun yang lalu, ia pernah menawarkanku sebuah peran utama di drama Jepang yang ia buat untuk Festival Seni Jepang (Bunkasai) di kampus, tapi dengan berat hati aku harus menolaknya karena saat itu dekat dengan musim ujian. Again, it was a big opportunity, but I refused it. But, trust me, aku langsung merasa menyesal telah menolaknya. I really love acting. Tadi malam, ia mengaku bahwa saat aku menolaknya, dia sempat merasa putus asa, bahkan dia berniat untuk menghentikan drama tersebut. Dan, ia bilang, sebenarnya drama itu ia pilih karena dia membayangkan aku sebagai pemeran utamanya. And I thought he offered me just because I participated in the drama a year before, but that's just so sweet :). Kemudian, hal lain yang membuatku terkejut adalah, bahwa sebenarnya dia pernah suka aku! That's amazing. It never slipped into my mind, not even once! Dia bilang, "I had a huge crush on you, and my girlfriend knows it. She also agrees that you are very pretty."
Aku ga bisa berhenti tersenyum setelah membaca itu. Menakjubkan, dengan kata-kata itu saja bisa merubah moodku dengan drastis. Aku ga pernah berpikir, aku bakal mendapat pujian bahkan dari seseorang yang asing bagiku. And that too, they called me pretty :).
Kembali ke email di atas, aku jadi berpikir, mungkin ada benarnya. Seseorang yang kamu tidak ketahui diam-diam mencintaimu. Bahkan mungkin saja dia berada di dekatmu saat ini!

Sunday, December 14, 2008

Efek Internet+

Heheheh...
Aku jadi geli baca tulisanku yang sebelumnya. Mungkin kalo ada yang pernah baca, reaksi mereka bakal seperti, "WTF??!!" -sambil banting-banting leptop- atau ga, "Apaan neh, gajebo ah" -sambil ninju-ninju monitor-. Well, I know, know, hiperbola sih (heheh) tapi kurang lebih gitu lah. Aku juga rasanya pengen nendang orang setelah baca postinganku yang sebelumnya. Suer, bikin mabok 7 keliling, bau jengkol aja kalah, deh.
Ini postinganku kedua di blog ini (jangan tanya aku punya berapa banyak blog -ga banyak, tapi juga ga terawat-). Setelah... berapa lama euy? Postingan terakhir kalau nda salah seh sekitar bulan Mei tahun 2007. So, kalau diitung mah mungkin sekitar satu stengah tahun kali yah (males ngitung, maklum, IQ rada rendah).
Blog yang laen, persis seperti blog ini juga sama terbengkalainya, alias nda disentuh lagi dalam waktu yang lama. Setidaknya sih lebih banyak postingan di sana daripada di sini, meskipun isinya sama-sama (kurang) jelas.

Akhir-akhir ini (baca: 2 tahun belakangan) aku lagi suka online berjam-jam (tapi ga pernah meluangkan waktu buat isi blog, heheheh). Ga cuma berjam-jam, malah bisa sampai berhari-hari. Yah, contohnya sekarang, dalam sehari waktuku yang nda terpakai untuk online jika dibandingkan dengan waktu onlineku adalah 2:3. Angka 2 untuk ratio tidak online, dan angka 3 untuk ratio online. Itu dihitung dari 24 jam sehari. Untuk waktu tidak online, itu termasuk waktu makan, mandi dan tidur (juga pergi ke luar kamar occasionally). Jadi bersihnya, waktuku untuk online adalah 14 jam sehari! Heran dengan apa aja yang aku kerjakan dalam kurun waktu tsb? Yah, ga banyak juga (secara aku jarang punya hasrat untuk menulis di blog, nyeee). Paling banter untuk chatting sama sang kekasih nun jauh di tanah aer, atau buka situs-situs komuniti sperti fesbuk, frenster atau kaskus. Tapi slain itu, aku juga punya hobi yang memang sudah mendarah daging, yaitu BACA KOMIK. Heheheh, jadi mengunduh komikpun jadi alasan kenapa aku susah banget diseret keluar kamar.

Sekarang aku punya hobi baru di internet. Apa itu?? Eng ing eng... NONTON ONLINE! Sebenernya hobi ini pun udah ada sejak setahun kemarin, sekitar bulan november 2007, dikala laptop my babe masih sehat wal'afiat. Waktu itu hobiku nonton drama Jepang online dari veohtv. Dulu, untuk nonton online pun mesti nunggu videonya loading dulu selama 2 jam, baru bisa nonton (untuk yang durasinya 40 menit, it was damn slow!). Maklum, koneksi bersama. Aku masih tinggal di hostel aka asrama yang slot internetnya masih sharing sama residence yang lain. Tapi semenjak aku pindah ke kos-kosan yang baru ini, wiih, koneksinya cepet, euy. Padahal speednya lebih kecil daripada yang di hostel. Jadi deh, hobiku nonton online semakin menjadi-jadi. Apa lagi semenjak aku menemukan situs-situs khusus untuk nonton film Asia. Senangnya, heheheh.

Tapi keadaanku sekarang ini bisa dibilang gawat, sih. Di Jepang, ada istilah yang disebut "Hikkikomori". Apa itu? Istilah ini sebenarnya digunakan untuk merujuk orang-orang yang menarik diri dari masyarakat dan orang-orang lain. Istilah Inggrisnya mah "Shut in". Nah, para hikkikomori ini biasanya mengurung diri dalam kamar untuk menghindari dari khalayak orang banyak, dan sebagian dari mereka adalah pengguna internet sejati. Di Jepang, para hikkikomori ini dikenal sebagai orang-orang yang antisosial, mereka menarik diri dari sekolah, tempat kerja, kuliah, bahkan dari keluarga mereka sendiri. Pada intinya pergaulan normal jadi hal yang tabu bagi mereka. Banyak alasan yang mendorong mereka untuk menjadi hikki, rata-rata sih karena trauma, ada juga karena sering di-ragging atau jadi korban bullying di sekolah/tempat kerjanya. Ada juga yang memang dari awal memilih untuk jadi hikkikomori.
Lalu apa hubungannya dengan keadaanku? Hm, ayo kita tarik garis lurus dari penjelasanku di atas. Aku online berjam-jam = hikkikomori. Dengan online berjam-jam, aku jadi males keluar dari habitatku tercinta a.ka kos-kosan mungil yang indah permai ini. Bahkan, untuk interaksi dengan orang yang paling dekat lokasinya denganku aja males. Dan sejujurnya aku ga kenal tetangga-tetanggaku. Ciri-ciri hikkikomori ini sebenarnya sudah muncul sejak aku masih di kamar hostelku, di mana aku biasa ga keluar kamar kecuali ke kamar mandi dan kuliah plus makan. Tapi setidaknya aku masih mau keluar kamar, meski cuma untuk ke kamar mandi (dan aku punya teman sekamar). Sekarang? Hm, I really need someone to drag me out of my room. Dulu ada sih, cuma dia sudah ga di sini lagi :(.
Yah, entah sampai kapan kehidupan antisosialku berlanjut. Dengan besok, mungkin bakal seminggu aku ga ketemu orang-orang yang aku kenal (intentionally, yah). Rada bosen juga sih. At least I need to get out of my room. Kata temenku, aku bisa kena sakit kuning kalo lama-lama di kamar. Wew... daripada sakit kuning, mendingan makan kue warna kuning deh... (Cheese cake, nyum, heheheh)

Wew... Jam 6 pagi kurang 20 menit. Yep, aku begadang, belum tidur sama sekali. Ini kebiasaan yang muncul semenjak 2-3 tahun belakangan ini aja. Internet itu addictive sekali, yaw.

Ok, me's off to sleep. Ciao.